Senin, 14 Oktober 2019
Budaya

Profil: Hamengkubuwono V

181views

Hamengkubuwono V merupakan Sultan kelima di kerajaan Yogyakarta. Sultan  Hamengkubuwono V memerintah dari 19 Desember 1823 hingga 17 Agustus 1826, dan sejak 17 Januari 1828 hingga 5 Juni 1855, di bawah kekuasaan hukum Hamengkubuwono II. Lahir pada 20 Januari 1821, Baliau adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono bernama Gusti Raden Mas (GRM) Gatot Menol. Pada tahun 1823, ketika ayahnya meninggal, ia diberi nama Sri Sultan Hamengku Buwono V ketika ia baru berusia tiga tahun. Sri Sultan tumbuh dengan perlakuan khusus antara belas kasih dan tanggung jawab yang besar dari jenis itulah yang membuat karakternya lembut dan menghindari kekerasan sebanyak mungkin.

Pada waktu itu, ketika beliau masih sangat muda, beliau membentuk dewan guru untuk memfasilitasi tugas-tugas pemerintah. Anggota dewan pembimbing terdiri dari Ratu Ageng (nenek Sultan, yang juga suami Sri Sultan Hamengku Buwono III), Ratu Kencono, yang merupakan ibu Sultan, suami Sultan Hamengku Buwono IV), Pangeran Mangkubum, yang merupakan putra dari Sri Sengan. Para administrator hanya memiliki kekuasaan untuk mengawasi keuangan pengadilan, sementara administrasi pengadilan dipercayakan kepada Patih Danurejo III, di bawah pengawasan penduduk Belanda. Seperti ayahnya yang didampingi dewan pembimbing, Sri Sultan Hamengku Buwono V memegang kendali penuh pemerintah pada tahun 1836 pada usia 16 tahun. Kepemimpinannya untuk sementara digantikan oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengku Buwono II pada tahun 1826 hingga 1828.

Sri Sultan Hamengku Buwono V juga sangat tertarik dengan kegiatan seni, khususnya tari. Beliau mengarahkan komunitas tari sendiri di istana. Menurut beberapa sumber juga mengatakan, bahwa  dia seorang penari. Selain menari, Sultan Hamengku Buwono V telah menciptakan Gendhing Gati, yang menggabungkan instrumen diatonik seperti terompet, trombon, seruling dan jenis drum atau drum lainnya dengan alat musik Jawa. Gendhing Gati biasanya digunakan di Kapang-Kapang dalam gerakan tari Bedaya atau Serimpi, yaitu komposisi ketika memasuki atau meninggalkan ruang dansa.

Di bawah pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V juga dibentuk pelembagaan tari yang unik. Hal ini disebabkan, karena ia membentuk kelompok penari Bedaya, yang biasanya ditarikan oleh penari biasa. Penari-penari tersebut digantikan oleh sekelompok penari yang disebut kelompok Bedaya Kakung. Pada masa pemerintahannya juga terdapat seba=uah Mahakarya, yang bernama Serat Makutha Raja. Maha karya ini berisi prinsip-prinsip dasar untuk menjadi raja yang baik. Sudah jelas dari karya ini dapat dilihat tentang visi masa depan Sultan Hamengku Buwono V, yang sangat menguntungkan bagi penduduk. Raja Fiber Makutho ini juga kemudian menjadi pedoman bagi raja-raja berikutnya dan referensi bagi para penguasa di luar istana. Serat Makutho Raja ini berisi lebih banyak nasihat dari Kitab Tajussalatin. Kitab Tajussalatin diterjemahkan pada masa Sultan Hamengku Buwono V. Ada juga karya-karya lain seperti Suluk Sujinah, Serat Syeh Tekawardi dan Serat Syeh Hidayatullah.