Senin, 14 Oktober 2019
Pendidikan

Sumpah Pemuda, Tonggak Awal Kemerdekaan Indonesia

117views

Sumpah Pemuda adalah episode utama dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia. Komitmen ini dilihat sebagai kristalisasi antusiasme untuk menegaskan cita-cita pendirian negara Indonesia. Cita-cita pemuda Indonesia ini dituangkan dalam pernyataan dari nilai-nilai dan cita-cita para pendiri negara yang akan menjadi Indonesia modern. Sumpah Pemuda  adalah teks penutup, yang merupakan hasil dari kongres para pemuda Indonesia ke II, yang diadakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia, atau yang saat ini dikenal dengan nama Jakarta. Teks Sumpah Pemuda tersebut mendefinisikan konsep dasar dari Bangsa Indonesia, konsep dasar Orang Indonesia, serta Bahasa yang akan digunakan sebagai alat pemersatu, yaitu bahasa Indonesia. Teks sumpah itu ditulis oleh Moehammad Yamin, di selembar kertas yang ia kirimkan kepada Sugondo Djojopuspito sementara Sunario Sastrowardoyo menyampaikan pidatonya, sebagai wakil dari pemuda.

Kongres Pemuda diselenggarakan dalam tiga sesi, di tiga lokasi berbeda dari Himpunan pelajar pemuda Indonesia (IPPP) yang terdiri dari pemuda dari seluruh wilayah Indonesia. Himpunan pelajar pemuda Indonesia (IPPP) adalah himpunan yang menyatukan siswa dari seluruh wilayah Indonesia. Beberapa perwakilan organisasi pemuda, termasuk Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dll, serta pengamat harimau muda seperti Kwee Thiam Hong dan John Lauw Tjoan Hok dan Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.Pada kongres tersebut, Moehammad Yamin memaparkan makna dan hubungan persatuan dengan pemuda yang menjadi harapan bangsa. Menurutnya, lima faktor dapat memperkuat persatuan Indonesia, yakni sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan.

Pertemuan kedua, pada hari Minggu, 28 Oktober 1928, di gedung Bioscoop Oost-Java, membahas masalah pendidikan. Dua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak-anak harus menerima pendidikan nasional dan bahwa harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak-anak juga harus dididik secara demokratis. Pada sesi penutupan Sumpah Pemuda, yang diadakan di Indonesische Clubgebouw dari Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi di samping gerakan monitoring. Ramelan mengatakan gerakan monitoring tidak bisa dipisahkan dari gerakan nasional.