Rabu, 19 Juni 2019
Teknologi

Gerhana Bulan, Planetarium Jakarta Siapkan Dua layar lebar

95views

JAKARTA – Planetarium Jakarta semenjak tadi pagi melakukan persiapan guna melayani ribuan peserta nonton bersama (nobar) gerhana bulan total (GBT). Untuk melayani ribuan masyarakat, manajemen mempersiapkan 15 teropong dan 2 layar berukuran tidak kecil.

Tampak di luar Planetarium Jakarta sejumlah karyawan tengah mempersiapkan layar berukuran sekitar 3 x empat meter. Selain di luar ruangan, mereka juga mempersiapkan satu layar besar lainnya di dalam ruangan.

“Layar satu untuk live dari teropong dan menyuguhkan streaming cuaca mendung. Sedangkan layar dua ada di dalam ruangan guna antisipasi hujan dan juga bisa menyuguhkan streaming,” ungkap Kepala Satuan Pelaksana Teknis Pertunjukkan dan Publikasi UP PKJ TIM Jakarta, Eko Wahyu Wibowo kepada SINDOnews, Rabu (31/1/2018).

Seperti diketahui, berdasarkan perhitungan astronomis, sore hari ini (Rabu, 31/1/2018), semua wilayah Indonesia bisa menikmati kejadian gerhana bulan total. Proses gerhana bulan total itu dimulai pukul 17.51-23.08 WIB.

Hingga pagi tadi, tepatnya pukul 08.45 WIB sudah ada 7.060 orang yang mendaftar menjadi peserta nobar di Planetarium Jakarta. “Rinciannya orang dewasa sebanyak enam ribu delapan puluh delapan orang, anak-anak (jenjang SMP ke bawah) ada sembilan ratus tujuh puluh tujuh anak,” sebutnya.

Dikatakannya, Planetarium Jakarta sudah menambah teropong dari awalnya cuma sebelas menjadi lima belas unit. Penambahan ini mengikuti jumlah peminat yang terus bertambah.

Supaya bisa menggunakan teropong, ditanya bagaimana langkah-langkah Pihaknya memulai pembukaan registrasi pukul 17.00-22.30 WIB. “Nantinya penggunaan teropong dilakukan secara bergantian dengan durasi sekitar dua menit per orang,” sebut Eko.

Gerhana Bulan, Planetarium Jakarta Siapkan Dua layar lebar

Demi kenyamanan warga, dirinya meminta mereka biar datang mulai pukul 15.00 WIB. Perihal ini guna mengantisipasi terbatasnya lahan parkir.

“Regristasi digunakan untuk pengaturan pemakain teropong dan bisa dilakukan secara online. Jika yang pakai teropong tak kami datam nanti tidak teratur. Supaya masyarakat pecinta astronomi tertib, ini hanya

Ia kembali mengingatkan warga, bahwa pengamatan bakal dimulai pukul 18.00 WIB dan berakhir pukul 23.00 WIB. Tepatnya pengamatan bisa dilakukan selama 5 jam.

Berdasarkan tulisan di laman planetarium.jakarta.go.id, tahapan gerhana yang relatif tidak susah bisa diamati oleh orang awam merupakan mulai pukul 18.48-22.11 WIB. Saat itulah bulan memasuki bayang-bayang utama (umbra) bumi.

Muka bulan yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi tidak terang. Perihal ini membuat muka bulan di bagian tepi menjadi agak cekung.

Peristiwa GBT aman untuk dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu semisal binokuler (kèkeran) atau teleskop (teropong). Tak berbahaya bagi kesehatan mata.

Namun ketika melihat dengan alat bantu optik dan mengamati bulan dalam fase purnama, maka kondisinya cukup menyilaukan. Jadi tidak juga disarankan berlama-lama melihat, terlebih dalam kondisi cuaca tidak jernih.