Rabu, 19 Juni 2019
Budaya

Mengenal “van Ophuijsen”, Penggagas Ejaan Bahasa Indonesia

348views

Charles Adriaan van Ophuijsen adalah orang berkebangsaan Belanda, yang memiliki kegemaran mempelajari bahasa berbagai suku di Hindia Belanda. Ia bersama Engku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Sutan Ibrahim menyusun ejaan baru untuk mengganti ejaan bahasa Melayu pada 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Charles pada tahun 1879 menerbitkan buku berjudul Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Selintas Kehidupan Kekeluargaan Suku Batak) dan Maleische Spraakkunst (Tata Bahasa Melayu).Beliau wafat kira-kira pada usia 61 tahun.

Dalam perkembangan bahasa Indonesia, nama Charles Adriaan van Ophuijsen, kemudian dijadikan nama ejaan pertama yang berlaku di negara Indonesia. Pada saat itu, Charles Adrian van Ophuijsen bersama   Engku   Nawawi   gelar   Soetan   Ma’moer   dan   Moehammad   Taib   Sutan   Ibrahimmenyusun ejaan baru untuk mengganti ejaan bahasa Melayu pada 1896. Pedoman tata bahasayang kemudian dikenal dengan nama  Ejaan van Ophuijsen  itu resmi  diakui  pemerintahkolonial pada tahun 1901. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku. Dalam kitab itu dimuat sistem  ejaan Latin  untuk  bahasa Melayu  di Indonesia. Charles Adrian Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di  Universitas Leiden, Belanda.  Setelah menerbitkan  Kitab Logat   Melajoe, van Ophuijsen   kemudian   menerbitkan  Maleische   Spraakkunst. Buk tersebut terbit pada tahun 1910.   Buku   ini   kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil. Buku tersebut memiliki judul Tata Bahasa Melayu. Kemudian, buku tersebut menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia. Ejaan ini akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik pada 17 Maret 1947. “Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Keunikan ejaan Van Ophuijsen Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin dan bunyi yang mirip dengan jenis tuturan Belanda. huruf J untuk menuliskan bunyi  Y, seperti pada kata jang (yang), pajah (payah), atau kata sajang (sayang). Ejaan lain dalam ejaan Van Ophuijsen adalah huruf OE untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata  goeroe (guru),  itoe (itu),  atau kata baroe (baru). Selain itu, dalam ejaan Ajaran Ophuysen tidak dipakai lagi. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa ketidak sepahaman. Ketidak sepahaman pertama adalah, karena dalam ejaan tersebut terdapat gugus konsonan, ketika digunakan  dalam bahasa Indonesia tidak menimbulkan kesulitan apapun dalam lafal bagi pemakai bahasa Indonesia. Hal yang ke dua adalah, karena masyarakat Indonesia menginginkan agar ejaan kata yang di ambil dan digunakan dalam bahasa Indonesia, diusahakan agar dekat dengan ejaan asli kata asalnya.