Senin, 25 Maret 2019
Hukum

FBI membekuk “Hacker” Surabaya Black Hat

58views

Penasihat Surabaya Black Hat (SBH), Zulham Akhmad Mubarrok mengungkapkan bahwa tiga orang yang ditangkap oleh Subdit IV Kejahatan Cyber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya adalah anggotanya.

Dia mengatakan salah satu dari tiga peretas memiliki kapasitas intelektual yang relatif tinggi dan minat yang besar di dunia internet.

“Tiga tersangka dalam proses FBI adalah anggota saya, salah satunya adalah remaja Black Hat yang berpotensi besar,” kata Zulham

Anggota Black Hat Surabaya sendiri dikatakan memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Tetapi kebanyakan dari mereka belajar tentang teknologi informasi otodidak dan lulus seleksi secara alami.

Sayangnya, terkadang anak muda dengan potensi dan intelektual, kata Zulham, tidak mendapatkan informasi yang baik tentang pekerjaan di bidang teknologi informasi.

“Itu benar , karena tidak memiliki informasi tentang ini, mereka tidak dilengkapi dengan pekerjaan khusus di bidang itu dan belum diakui oleh pemerintah, yang berarti bahwa jenis pekerjaan ini belum populer,” dia kata.

Sebelumnya, enam orang yang masuk di Surabaya Black Hat diketahui telah meretas enam situs milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hal ini diketahui selama pemeriksaan intensif terhadap tiga tersangka anggota SBH yang telah ditangkap oleh polisi pada hari Rabu.

Ketiga tersangka ini diketahui masih menjadi mahasiswa jurusan Teknologi Informasi (TI) di salah satu universitas di Surabaya. Mereka adalah NA (21), KPS (21), dan ATP (21).

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dilaporkan ikut campur secara langsung menangkap sindikat hacker situs dan sistem elektronik Surabaya Black Hat di Surabaya, Jawa Timur.


Kejahatan Intelektual

Zulham mengatakan tuduhan kejahatan yang dilakukan oleh beberapa anggotanya masuk ke kejahatan intelektual. “Orang-orang ini dapat digolongkan kejahatan intelektual, pelaku kejahatan dengan tingkat kemampuan di atas rata-rata,” katanya.

Dia mengatakan itu berbeda dari sistem di luar negeri, karena biasanya pemerintah akan merangkul hacker dengan intelektual tinggi untuk bekerja pada pemerintah. Itu menurutnya yang membuat potensi besar di bidang TI dijalankan di luar negeri.

“Di luar negeri, pelaku hacker di sana diprioritaskan sebagai teknisi khusus untuk membantu menjalankan pemerintah untuk menjadi tentara cyber,” katanya. “Itu karena ketidakmampuan negara untuk hadir dan membimbing saudara-saudara yang cerdas ini.”