Jumat, 22 Februari 2019
NasionalOpiniPilpres 2019

2019 JANGAN REBUT KEMENANGAN RAKYAT!

2019 JANGAN REBUT KEMENANGAN RAKYAT! (monitorkini.com)
8views

Jakarta – Sebelum bulan Agustus, menjelang pencapresan hampir semua lembaga survei sepakat popelek petahana dibawah 40-an%. Dan ini membuat senewen semua pihak sehingga pencitraan digeber abis-abisan.

Dan yang lebih mengerikan lagi paska penetapan capres cawapres, berdasarkan bigdata volume trend Prabowo mampu crossing popelek (popularitas elektabilitas) petahana. Hal ini disinyalir kesalahan pemilihan cawapres. Banyak pihak menyatakan jika Mahfud MD yang jadi pilihan, mungkin situasi akan berbeda dengan sekarang.

Untuk menutupi celah ini, langkah jor-joran pasang baliho segede gaban di tiap kota dilakukan. Mengerikan memang, berjejer puluhan baliho besar-besar milik petahana sementara pasangan Prabowo Sandi hanya satu dua, itupun mungkin dipasang oleh KPU.

Tidak hanya itu! Berdasarkan riset internal Gerindra, media televisi hanya memberikan porsi sekitar 10-15% penayangan konten Prabowo Sandi dan sisanya incumbent. Tidak adil memang, tapi begitulah adanya.

Pilpres 2019 memang terasa tidak adil. Kekuatan uang tak berseri melawan perjuangan nasionalis dan ulama bersama umat. Namun tidak mematahkan langkah perlawanan karena ternyata paska crossing popelek hingga sekarang situasi tidak berubah. Prabowo Sandi memiliki prosentase lebih tinggi.

Tentu hal ini sangat semakin menakutkan. Karena ternyata langkah Prabowo Sandi dan ulama bersama relawan dan simpatisan serta kader partai koalisi yang terus gerilya lebih efektif dibandingkan jor-joran iklan di baliho maupun televisi yang kini sudah masuk hingga ke desa-desa dipelosok. Tentu kita semua ingin tahu, berapa dana yang dikeluarkan? akankah iklan-iklan tersebut akan diaudit oleh Bawaslu dan KPU?

Jika kita cermati, 2 tahun popelek petahana di kisaran 40-an%, crossing setelah pencapresan, pergerakan umat dan ulama yang massif diberbagai daerah, sambutan meriah prabowo maupun sandi di setiap kunjungan dan asumsi-asumsi lainnya seperti dukungan alumni SMA, perguruan tinggi, dokter , pilot, guru, buruh, ojek online serta pergerakan emak-emak dan pensiunan TNI Polri dan lainnya. Petahana menang itu mustahil dan kalah sudah pasti.

2019 JANGAN REBUT KEMENANGAN RAKYAT!
2019 JANGAN REBUT KEMENANGAN RAKYAT! (monitorkini.com)

Secara logika sederhana, 2014 saja selisihnya sedikit (52,8% – 47,2%) dan tentu dengan kenaikan harga yang gila-gilaan serta rusaknya tatanan kenegaraan dan sosial akan membuat pemilih berkurang drastis. Apalagi pamer #ketidakdilan yang kasat mata akhir-akhir ini.

Namun demikian, perjuangan masih panjang dan berat. Media masih massif menjadi timses bayangan petahana. KPU dan Bawaslu terlihat seakan-akan tidak seimbang. Belum lagi masalah DPT ganda 25jt yang kini masih jadi polemik karena akan menjadi pintu kecurangan yang sangat nyata di didepan mata meski hanya diakui 2,9jt yang diakui sebagai DPT ganda. Belum lagi DPT siluman sebesar 31jt yang tidak boleh di verifikasi oleh KPU dan pemilih orang gila yang diperkirakan mencapai 14jt pemilih.

Benar kata Prabowo bahwa “Mereka pikir, politik adalah menang-menangan sendiri”. Jika proses pemilihan melalui cara kecurangan maka hasilnya sudah pasti bukan untuk rakyat.

Ini bukan masalah Prabowo kembali dicurangi. Ini masalah penyelamatan negeri ini dari tangan-tangan jahat yang ingin menjerumuskan bangsa ini dalam jeratan hutang yang luar biasa hingga akhirnya bangsa ini tidak mampu menanggungnya.

“Kita butuh, REVOLUSI KOTAK SUARA. Untuk mencegah perampokan suara rakyat dan perampasan kekuasaan dengan Cara curang” tegas Prabowo.

Revolusi ini hanya bisa berjalan ketika Kita semua turun tangan menyelamatkan kotak suara diwilayah masing-masing dan mencegah mereka melakukan kecurangan.

Semua ini Demi Masa depan anak cucu Kita.

 

Leave a Response